Sudah Kuduga Puasa Membuat Saya Egois

Pembaca tulisan ini, berhati-hatilah jika anda berpuasa dibulan Ramadhan. Pengalaman saya membuktikan bahwa berpuasa dibulan ini membuat diri saya lebih egois. Jika tidak percaya, silakan buang waktu anda untuk menyelesaikan bacaan ini.

Sebagai penghuni baru daerah ini maka banyak hal yang biasa menjadi tantangan besar dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi menjalankan puasa dibulan Ramadhan ini.

Apa saja tantangannya..?

Waktu puasa (siang hari) lebih lama karena panjang siang lebih panjang dari pada di tanah air. Saat ini di belahan bumi Utara adalah sedang musim panas sehingga panjang siang di daerah saya menjadi sekitar 17-an jam. Ini adalah tantangan pertama. Beda sekitar empat jam dibandingkan di tanah air. Lalu apakah saya membuat ketentuan sendiri untuk membatasi waktu puasa? Ikut lama waktu seperti di tanah air gitu…

Ya nggak lah ya. Saya ikuti saja durasi perjalanan matahari dari Subuh hingga Maghrib disini, gitu aja kok repot. Ini ego saya yang pertama.

Bagaimana kehidupan sehari-hari..?

Berangkat ke kampus (biasa disebut juga: ngantor:-) ) adalah hal lain lagi. Bus umum adalah transportassi andalan saya. Jarak dari rumah ke kantor yang sekitar sepuluh kilometer tentunya melalui banyak halte. Penumpang yang beragam warna dan adat segera bercampur dalam satu ruang bus.

Di dalam bus memang dilarang makan, tetapi banyak yang membawa makanan, dan aromanya tentunya tak bisa dilipat-lipat dikantongin. Ia akan terbang dan menari-nari keseluruh pelosok bus. Saat berpuasa, you know lah, bau pizza kemarin sore saja terasa nikmatnya luar biasa. Apalagi berbagai aroma makanan segar yang dibawa para komuter ini.

Sifat egois saya muncul. Saya tidak mengacuhkan sama sekali para aroma tadi dengan tidak perlu menduga-duga ia berasal dari jenis makanan atau minuman apa. Bodo amat…

Summer, musim panas, adalah waktu yang sangat berharga bagi penduduk Michigan. Kenapa? Karena Michigan adalah daerah yang selalu tertutup salju selama empat bulan dalam setahun. Jadi, ada panas sedikit saja, misal suhu udara sekitar sepuluh derajat Celsius, maka semua pakaian dibuang.

Yang dipakai adalah potongan-potongan kecil saja sebagai pembalut tubuh. Di bus pun demikian, dan setelah turun dari bus pun makin banyak pemandangan seperti ini, apalagi di kampus..! Sebagian besar penduduk menikmati panasnya udara yang mereka nantikan dengan membiarkan kulit terpapar seluas-luasnya oleh sinar matahari.

Sifat egois saya muncul kembali. Menjaga mata..? Walah ya nggak mungkin lah. 360 derajat pandangan ya begitu semua. Pakai kacamata gelap? Justru itu mah modus saja dalam “menikmati” pemandangan.

Ke-ego-an saya muncul dengan, ehm, tidak memfokuskan pandangan. Kalau dalam analisis dijital ilmu remote sensing adalah dengan membuat blur. Apa yang dibuat blur..? Pikiran, perasaan, dan lain-lain, sehingga bisa lebih cuek dalam berjalan. Nggak perlu celingak-celinguk sana-sini lah..!

Di kantor (atau ruang kerja laboratorium), yang berpuasa tidak hanya saya, ada dua rekan lagi. Tetapi sisanya yang merupakan mayoritas adalah rekan-rekan saya yang baik dan tidak berpuasa, yang selalu menyediakan segelas minuman di mejanya, dan selalu menyapa saat akan makan sesuatu. Nah lho…!

Saat itulah saya kembali setel ego tinggi-tinggi dengan mengabaikan yang dilihat yaitu minuman segar atau sekerat pizza yummy atau buah apel yang ranum: saya nggak perlu, bro..!

Tentunya tetap senyum saat mana rekan menawarkan makanan atau minuman segar tadi. Sesekali menelan ludah yaah okelah…

Saat berjalan di tempat keramaian, mall misalnya, tidak ada toko makanan yang (dipaksa) tutup tentunya. Semua seperti biasa, menjual dengan aneka warna menarik dan aroma yang menari-nari kemana-mana. Es krim segar berbagai rasa ada di depan mata. Belum lagi vending machine yang menawarkan Pepsi atau Coca-cola yang bertaburan butiran air segar hasil kondensasi dikulit kemasannya… mmm… segeerrr bro…

Sekali lagi dan lagi, ego saya naik. Nggak peduli..! Saya nggak peduli dengan suguhan di depan mata seperti itu.

Nah, begitulah. Dimulai dari panjangnya hari, lalu pemandangan manusiawi yang mini-mini, lalu aroma makanan yang menari-nari, dan beragam minuman yang segar berseri. Untuk semua itu saya nggak peduli..!

Saya berpuasa, dan puasa ini milik saya, bukan milik orang lain..!   Nah nah nah… Bukankah itu egois..?

 

Penulis : Hartanto Sanjaya (WNI, Bermukim di Michigan, Amerika Serikat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *