Dialog Antaragama Membangun Pengertian Bersama, Berbagi Pengalaman dari Michigan

Menjadi minoritas dan bulan-bulanan isu negatif dalam suatu komunitas bernama negara tentunya sangat tidak nyaman. Banyak orang yang telah merasakan hal ini dimanapun ia hidup di muka bumi. Minoritas selalu menjadi bahan perisakan termudah bagi orang-orang yang mengganggap dirinya bagian dari mayoritas.

Amerika Serikat menjadi salah contoh yang nyata mengenai masalah ini. Agama Islam adalah salah satu topik bahasan tiada henti, terutama saat mana terkait dengan politik (tahun ini adalah tahun panas menjelang pemilihan Presiden) dan dikompori oleh komentator-komentator (plus penyiar) tengik dimedia massa internasional.

Semua menjadi permainan isu yang liar, dan membingungkan masyarakat awam. Masa sih orang Amerika bisa bingung? Yup, banyak dari mereka yang sebenarnya mampu berpikir jernih menjadi bingung dengan arus informasi yang begitu deras mengenai pembusukan citra muslim (dan muslimah) dari semua sisi.

Sebagian dari yang bingung dan masih mau berpikir sehat ini adalah sekelompok kegiatan dibawah unit Michigan State University, yaitu ISC atau singkatan dari International Spouse Connection. ISC ini adalah wadah kegiatan bagi semua orang yang terlibat secara tidak langsung pada kehidupan di MSU karena anak, istri, suami yang sedang bertugas atau sekolah di MSU.

Pimpinan unit ini adalah seorang ibu profesor bahasa, yang telah pensiun dari MSU. Salah satu kegiatan dalam ISC pada semester ini adalah diskusi masalah keagamaan yang terkait isu panas nasional. Apalagi kalau bukan keingintahuan mengenai agama Islam yang selalu (di)-heboh-(kan).

Bu Profesor ini mempunyai pengalaman melanglang buana ke beberapa negara Islam, seperti beberapa negara di Afrika Barat dan Utara (banyak penganut Islam di daerah ini), kemudian pernah juga tinggal di Pakistan, dan beberapa tahun tinggal di Bogor dan Padang, Indonesia. Beliau mendapatkan gambaran tentang muslim yang beragam, sehingga selalu tertarik pada diskusi mengenai Islam.

Pada bulan Januari lalu, diadakanlah diskusi mengenai Islam dengan narasumber Pak Thasin Sardar (aslinya dari India, telah menetap di Amerika). Beliau adalah mantan President of the Islamic Society of Greater Lansing, dan anggota Dewan the Michigan Chapter of the Council on American Islamic Relations. Selain itu juga menampilkan Desi Fitri Diana dan Annisa Mutia Ratri (istri mas Yusuf Bahtimi) yang menceritakan mengenai kehidupan perempuan muslim (muslimah) di Indonesia secara umum.

Kegiatan ini dilaksanakan di Gereja University Lutheran East Lansing, dan dihadiri lebih dari 20 orang anggota ISC yang berasal dari mancanegara (Eropa, Asia Selatan, Timur Jauh, Amerika Latin, dan Amerika). Topik yang dibicarakan adalah dasar keyakinan agama Islam, hubungannya dengan Christianity dan Judaism, dan hukum yang berlaku bagi perempuan muslim.

Acara berlangsung satu setengah jam dan sangat menarik perhatian yang hadir. Beberapa pertanyaan diberikan peserta, antara lain tentang penghormatan dan hukum Islam terhadap perempuan muslim. Juga mengenai kondisi yang selalu panas antarmuslim di Timur Tengah. Juga banyak hal, yang secara sederhana telah dipraktikkan oleh muslimah dimanapun, seperti misalnya mengenai pemakaian hijab ditanyakan.

Diskusi ini menghasilkan pemahaman baru bagi beberapa peserta, yang sempat ngobrol dengan saya sesaat setelah acara berlangsung. Pesan kuat yang saya tangkap adalah: wah, kami baru mengerti bahwa Islam itu begini begitu, tidak seperti yang ditampilkan di TV.

Dialog seperti ini telah saya ikuti beberapa kali pada komunitas diskusi Gereja.. Dan rerata yang mengikuti diskusi berpendapat sama seperti yang saya tulis diatas: kami baru mengerti bahwa Islam itu begini begitu, tidak seperti yang ditampilkan di TV.

Setelah mengetahui Islam itu apa, maka tentunya mereka akan melihat bagaimana sih implementasinya dikehidupan sehari-hari. Inilah yang menjadi tantangan besar bagi muslim di Amerika, pembuktian langsung di lapangan.

Penutup tulisan saya kali ini adalah sama dengan penutup tulisan saya sebelumnya, bahwa: Yang dilihat pertama oleh orang lain bukanlah “Islam itu apa” tetapi dari “muslim itu bagaimana”.

 

Penulis : Penulis : Hartato Sanjaya (WNI, Bermukim di Michigan, Amerika Serikat)

2 thoughts on “Dialog Antaragama Membangun Pengertian Bersama, Berbagi Pengalaman dari Michigan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *