Belajar Bekerja dengan Bekerja, Pengalaman dari Michigan

1
607

Bekerja dan belajar bekerja ada kesamaannya, yaitu sama-sama bekerja. Dan bekerja adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi anak-anak muda di sini. Apapun status pekerjaannya, tetaplah menjadi nilai positif dibandingkan dengan yang tidak melakukannya.

Si sulung sejak kelas 11 telah “diwajibkan” bekerja oleh sekolahnya melalui unit kegiatan ataupun mata pelajaran tertentu. Ia masuk dalam kelompok NHS atau National Honor Society , yaitu kelompok khusus untuk anak SMA yang mempunyai prestasi tinggi dan berkelakuan baik.

Di NHS setiap anggota diwajibkan bekerja untuk jumlah jam tertentu. Bekerja disini adalah melakukan pekerjaan tanpa dibayar atau dikenal dengan volunteering, yaitu menjadi volunteer atau pekerja sosial.

Mereka semua disalurkan pada keluarga yang terkoneksi dengan sekolah, artinya adalah keluarga yang telah mempunyai rekaman jejak yang baik dan diketahui oleh sekolah. Apa yang dilakukan? Sangat beragam tentunya, tergantung dari si pemberi pekerjaan pada keluarga tertentu tersebut.

Yang dialami oleh si Sulung adalah ia mendapatkan pekerjaan pada seorang ibu yang cukup umur, dimana anak-anaknya telah pergi semua mempunyai kehidupan sendiri. Ia perlu bantuan untuk membersihkan rumahnya dalam segala hal. Misalnya: membersihkan gudang, ruang bawah tanah, koleksi buku, perabotan dan lain-lain. Ini adalah pekerjaan dalam rumah yang umum diperlukan bantuan dari para siswa group NHS itu. Pekerjaan dalam rumah adalah pekerjaan yang dilakukan pada musim dingin tentunya. Diluar musim dingin, seperti musim semi hingga gugur, maka pekerjaan lebih beragam lagi karena menyangkut pekerjaan di luar rumah.

Apa yang dilakukan di luar rumah? Memotong rumput menggunakan mesin (jika halaman luas), membersihkan rumput liar di taman, membersihkan dedaunan pepohonan. Atau dapat juga memotong dahan atau tanaman yang dirasakan mengganggu atau membahayakan bagi tuan rumah. Semua pekerjaan ini sangat tidak ada hubungannya dengan nilai GPA di sekolah yang mereka miliki seputaran 4.0 itu. Dan, seperti telah ditulis diatas, mereka bekerja sebagai pekerja sosial, yang tidak dibayar sepeserpun. Mereka belajar bekerja dengan bekerja.

Apa dampaknya bagi anak-anak SMA ini dengan melakukan pekerjaan tersebut? Kemampuan mereka melihat kehidupan lain selain keluarganya semakin terasah. Bagaimana mereka bersosialisasi dengan keluarga lain dengan menempatkan diri pada posisi sebagai pekerja adalah pelajaran hebat yang mereka dapatkan. Mental mereka, tanpa terasa, terbiasa dengan bekerja tidak hanya untuk mencari uang tetapi juga bersosialisasi dengan memupuk hubungan sosial yang baik.

Pada budaya disini, memiliki pekerjaan adalah suatu kebanggaan. Tidak semua orang mampu menjadi pilihan dalam sebuah tim kerja walau mempunyai prestasi akademik yang tinggi. Sehingga kegiatan volunteering menjadi ajang khusus penilaian dalam mencari pekerjaan sesungguhnya kelak.

Setahun penuh si Sulung mengikuti berbagai kegiatan volunteering, baik yang terkait dengan sekolahnya ataupun yang dilakukan oleh pihak lain di kota ini, membuat ia percaya diri dalam menyambut pekerjaan sesungguhnya.

Kesempatan itu datang saat mana ia hampir menyelesaikan sekolahnya di kelas 12. Tawaran pekerjaan dari sesama teman diterima dan mulailah ia bekerja menjadi pelayan sebuah toko makanan. Menjadi pelayan? Yang bener aja…!

Betul, menjadi pelayan yang dapat berfungsi segalanya. Yang dilakukan di toko tersebut adalah melayani pembelian, pembayaran, sekaligus pembersihan semua peralatan dan perabotan. Jadi tidak mengherankan saat melihat ia sedang berdiri di belakang etalase, atau di belakang mesin kasir, atau sedang mengepel lantai. Semua dilakukan.

Malukah si Sulung dalam melakukan ini semua? No..! Justru terlihat kebanggaan diwajahnya dari cara bekerja dan semangatnya ia melakukan pekerjaan ini. Ia menikmati bekerja sebagai pelayan yang ternyata tidak berbeda jauh dengan apa yang telah dilakukannya setahun terakhir ini pada berbagai kegiatan volunteering.

Lalu, malukah orang tuanya melihat anaknya bekerja kasar menjadi pelayan toko? Sama sekali tidak. Saya justru terharu dan bangga bahwa si Sulung mampu menyerap pelajaran dari semua kegiatan volunteering yang telah dilakukannya bersama program sekolahnya. Bersentuhan dengan khalayak tidaklah gampang, apalagi di masyarakat yang berbeda budayanya dengan di tanah air. Tetapi ia sanggup menjalaninya dengan enjoy.

Saya teringat saat kelas 3-4 sekolah dasar di kampung dulu. Saat itu orang tua bertugas sebagai salah satu pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat pada tingkat Kabupaten. Saya dibiarkan oleh orang tua untuk berjualan “es balon”, yaitu es yang dibuat dari air berwarna dan manis dalam kemasan plastik memanjang, dengan membawa-bawa teremos dan berjualan di samping pagar salah satu SMP di dekat rumah. Es balon yang saat itu seharga 5 atau 10 Rupiah adalah salah satu dagangan laris untuk anak-anak sekolah saat mereka jeda belajar. Orang tua saya tidak pernah malu dengan “status-statusan” yang ada, dan mereka membiarkan saya belajar banyak hal langsung di lapangan. Saat ini saya melakukan hal yang serupa…

Saya tertarik dengan kata-kata dari Leah LaBelle Vladowski, seorang penyanyi R&B dari Toronto, Canada:

Work hard for what you want because it won’t come to you without a fight.

Kalimat sederhana yang sangat klise dari seorang anak muda, tetapi mempunyai arti sesungguhnya dalam menyikapi kehidupan. Suatu tujuan memang harus diperjuangkan untuk mencapainya. Tentunya dengan bekerja keras dan cerdas.

Bagi yang hanya termangu dan menunggu, ya silakan ke laut aja

 

Penulis : Hartato Sanjaya (WNI, Bermukim di Michigan, Amerika Serikat)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY